halooo,, gaesss...
Kali ini aku akan memperlihatkan hasil karyaku membuat cerpen,,
awalnya, aku buat cerpen ini, cuma iseng-iseng aja sih,, hehe..
apalagi aku buatnya itu, pas aku kuliah semester 3,, hehe.. udah lama banget kan.. sekarang aku semester 6 lho.. hehe.. tapi baru sempet dan berani aku publikasiin..
karena ini aku baru belajar buat cerpen, jadi rada berantakan dikit gapapa ya.. hehehe :P
Oh iya, cerpen ini uga terlalu banyak khayalan atau imajinasinya,, jadi jangan heran ya.. #biasa masih labil,, hehe xD
Penasaran kan,, sama ceritanya.. ini dia...
Selamat Membaca.. ^o^
-My Journey-
Perkenalkan,
namaku Amalia Sonya Azalia. Teman-temanku memanggilku ‘Lia’ atau kadang juga
dipanggil ‘Sonya’. Aku adalah seorang mahasiswa baru yang mengambil jurusan
dibidang ekonomi yaitu akuntansi. Aku sangat tertarik dengan
penghitungan-penghitungan yang notaben-nya tidak memerlukan penalaran dalam
berfikir.
Hari ini adalah hari pertama-ku mengikuti penerimaan mahasiswa baru di
Universitas Pajajaran Indonesia. Saat aku sedang menuju ke kampus dengan payung
hijauku, tiba-tiba hujan deras mengguyur dengan cepatnya. Aku bergegas untuk
segera masuk kedalam bus kampus. Untuk mengisi kepenatanku, aku medengarkan
radio melalui headset dan mendengarkan lagu yang
sudah aku pesan. Tiba-tiba orang yang ada diseberang kursiku melihatku dan
tersenyum padaku. Aku yang melihatnya dari pantulan kaca jendela bus merasa
aneh, dan melihat apakah ada yang salah dengan muka dan penampilaku? Aku rasa
tidak ada yang aneh dengan diriku dan membiarkannya berlalu begitu saja.
Saat aku turun dari bus, dengan
payung hijauku. Tiba-tiba lelaki itu memanggilku, “Tunggu sebentar.” sahut
lelaki itu, yang dengan segera menghampiriku dan memegang tanganku yang ada
dipayung.
“Apakah
kamu mengikutiku?” tanyaku. “Oh, tidak.. Uhm, aku sudah punya cowok yang aku
suka” kata Sonya dengan pelan dan mencoba melepaskan pegangan tangannya.
Laki-laki
itu tersenyum dan berkata, “Uh oh.. This isn’t right. This is mine. This is my
umbrella. Kamu mengambil payung yang salah, untuk itulah aku mengambilnya.
Pergilah!” dengan cepat merebut payung itu dariku dan berjalan mengabaikanku.
“oh, tidak, oh oh..” desahku dengan
mengikutinya dan mencoba berteduh sepayung dengan-nya. “Lalu, dimana payungku?”
tanyaku padanya. “Aku melihatnya didalam bus.” jawabnya dengan cepat. “Lalu,
kenapa kamu tidak membawakan payungku?” tanyaku dengan kesal. “Mengapa aku
harus turun dari bus dengan memakai payung orang lain?” jawab cowok tersebut
dengan menghentikan langkah kakinya. “Jika aku membawa payungmu, kamu harus
membawakan payungku!” nasehatku padanya. “Setiap orang harus menginggat
payungnya masing-masing, bukan?” katanya dengan angkuh. Dengan kesal aku
berkata,“Hey, itu karena kamu melihatku didalam bus tadi, jadi aku tanpa sadar
mengambil payungmu. Kamu tetap melihatku, benarkan? Melihatku dan melihatku..
huh?”
“Siapa
yang perduli aku melihatmu atau tidak?” jawabnya cepat. “Benar, kamu melihatku.
Kamu tetap melihatku dan tersenyum kearahku, benarkan? Kamu melakukannya kan?”
tanyaku kesal. “Iya, benar aku melakukannya.” jawabnya. “Oh, kamu
melakukannya!” nadaku marah. “Aku melakukannya, karena kamu sangat lucu. Ketika
kamu mendengarkan radio, aku melihatmu dan kamu sangat lucu dengan bernyanyi
cukup keras.” sahutnya dengan santai. “Oh, jadi begitu, mengapa kamu
melihatku.” kataku pelan.
“Kamu
pikir, hanya aku yang melihatmu? Semua orang yang ada di bus melihatmu. Tapi,
aku tahu bahwa kamu hanya melihat mataku.” katanya dengan angkuh dan mulai
melanjutkan langkah kakinya. Aku yang mengikutinya hanya mendengarkannya
berbicara. “Aku mendukung hal tersebut. Masalahnya kamu tidak melihat orang
lain yang ada di bus, dan itu nampak hanya pandangan bagus dari seorang cowok
yang ada dimatamu. Bertingkah berlebihan terhadap imajinasimu dan membawa
payung orang lain.” katanya. “What?? Dan sekarang, apakah kamu mengikutiku? Oh
my god.” sahutnya kembali. “Apakah kamu akan pergi dengan mengikutiku seperti
ini?” tanyanya lagi.
“Tidak..”
sahutku segera. “Aku pergi sekarang.” kataku pelan. “Aku minta maaf atas
kesalahpahaman ini. Tapi aku cukup kecewa karena kamu tidak mengambilkan
payungku. Sampai jumpa.” kataku dengan sopan.
Dengan payungnya, cowok tersebut
menghalangi jalanku dan bertanya, “Apakah kamu mau ke gedung itu?” “Jangan
mencoba untuk tahu lebih banyak lagi, hmm?” sahutku dan pergi meninggalkannya.
“Uh oh..” gumamnya.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Akupun mulai memasuki gedung dimana
upacara penerimaan mahasiswa baru itu
berlangsung. Aku duduk di urutan ke-2 dari depan. Hari itu, upacara
berlangsung dengan teleconverence,
jadi semua mahasiswa baru hanya melihat dari layar yang sudah disediakan.
Setelah acara pembukaan upacara penerimaan mahasiswa baru, panitia PPA (Program
Pengenalan Akademik) mulai memperkenalkan
diri satu per satu.
Terkejutnya diriku, ketika tiba pada
akhir perkenalan, ternyata cowok yang bertengkar denganku sebelumnya adalah
salah satu kakak tingkatku dan sekarang menjadi pendampingku selama mengikuti
kegiatan PPA ini. Cowok tersebut bernama Argi Redfayana. Nama yang cukup unik
untuk sebagian orang yang baru mengetahuinya. Dia berasal dari Bandung dan
ternyata lebih tua 2 tahun dariku. Betapa malunya diriku ketika mengetahui hal
tersebut, akupun sempat mengehela nafasku dan memejamkan mataku karenanya.
Tiba-tiba terdengar suara yang pernah ku
dengar sebelumnya. “Hey, kamu. Mengapa kamu menutup matamu?” kata Argi
kepadaku. “Tidak. Aku hanya menutup mataku sebentar karena debu.” jawabku
segera. “Oke, karena kamu melakukannya dengan menutup matamu cukup lama, maka
majulah kedepan dan perkenalkan dirimu.” katanya kembali.
Dengan berat hati aku melangkah maju ke
depan banyak orang. Sebenarnya, aku sangat malu untuk melakukan hal tersebut,
tapi aku harus melakukannya. “Perkenalkan, namaku Amalia Sonya Azalia,
teman-teman bisa memanggilku Sonya. Aku berasal dari Semarang. Salam kenal
semuanya.” kataku dengan grogi. Tidak hanya disitu saja, aku diperbolehkan
duduk kembali asalkan aku harus melakukan semacam gerakan senam bersama
kakak-kakak panitia PPA, yang diberi julukan tarian ‘Chicken Dance’. Setelah
itu, mereka memberiku sebuah gantungan kunci sebagai partisipasi melakukan hal
tersebut dan menyuruhku duduk kembali.
Hari ini begitu panjang berlalu bagiku.
Akupun kembali menuju asrama yang aku tinggali bersama dengan teman sekamarku
dan juga teman sekelasku yang berasal dari Tegal, Lutfiyani namanya. Walaupun
aku cukup kesal dengan kejadian itu, tapi aku juga merasa senang. Entahlah,
rasanya seperti campur aduk. Akupun membuat diriku merasa nyaman berada
dikamar, dengan membuka selembar kertas berisi informasi tentang UKM (unit
kegiatan mahasiswa) dan mulai memberi lingkaran pada kegiatan yang membuatku
tertarik, yaitu HIMA dan KIME. Sebenarnya, aku tidak mengerti apapun tentang
dua kegiatan ini, tetapi rangkaian huruf itu membuatku semakin penasaran apa
yang ada didalam kegiatan tersebut.
Haripun berlalu dengan cepatnya, sudah
seminggu aku berada di universitas ini. Banyak UKM yang menawarkan untuk
mengikuti kegiatan-kegiatan mereka. Salah satunya adalah HIMA (Himpunan
Mahasiswa). Kegiatan yang sudah aku incar saat ini. Aku, Ajeng dan Lutfi pun
berdiri disebuah banner, dimana berisi bagaimana cara mendaftar menjadi MPE 48,
HIMA Jurusan Pendidikan Ekonomi.
“Ayo adek, daftar saja magang HIMA Jurusan Akuntansi.
Cara daftarnya seperti ini. Jika masih belum paham, tanya saja.” celetuk cowok
yang tak asing bagiku. Akupun tersadar bahwa dia adalah kakak tingkatku yang
bernama Argi. Beruntungnya diriku, bahwa dia tidak mengingat wajahku, jadi aku
bisa bertanya-tanya tentang organisasi itu kepadanya. Tanpa ragu lagi, aku dan
temanku pun mendaftar menjadi anggota magang HIMA PE. Kami harus mengikuti
litsus untuk bisa bergabung dalam organisasi HIMA PE ini. Seminggu berlalu,
pengumuman diterima atau tidaknya di organisasi tersebut, sudah terpajang di
mading kampus. Aku sangat senang, ketika melihat namaku tertulis dikertas
tersebut. Sayangnya, teman sekamarku Lutfi, gagal untuk masuk dalam organisasi
tersebut.
Tidak lama setelah pengumuman,
diadakan pertemuan antara mahasiswa yang mengikuti magang dan fungsionaris HIMA
PE. Kami saling memperkenalkan diri satu sama lainnya. Argi juga memperkenalkan
dirinya kembali. Entah kenapa, aku mulai tertarik kepadanya. Mungkin karena namanya
yang terlalu unik, sehingga aku merasa penasaran dengannya atau ada faktor X
yang lainnya. Aku tidak begitu yakin dengan hal tersebut. Tanpa sadar, ternyata
aku sudah memperhatikannya sejak awal pertemuan itu. Tiba-tiba dia beralih
tempat dan duduk dibelakangku. Aku pun bertanya padanya, “Apa yang kakak
lakukan disini?” “Diamlah!” serunya padaku. Dan ternyata, dia menjahili
mahasiswa magang dengan membolak balikkan sepatu mereka dan menyembunyikan
sepatu mereka. “Jahil sekali orang ini, haha..” gumamku. Setelah selesai acara
tersebut, banyak mahasiswa magang yang menggerutu dan aku hanya tersenyum
karenanya.
Pertama kalinya aku mengikuti
kegiatan magang-ku di HIMA PE dengan menjabat sebagai asisten sekretaris. Kak yang biasa dipanggil kak Tika, memberi
pengarahan kepadaku dan dua temanku, Kinal dan Melody, bagaimana caranya
menjadi sekretaris di HMJ Akt ini. Setiap mahasiswa magang, diberi sebuah proja
untuk membantu kak Tika dalam pembuatan laporan, akupun ditugaskan dalam
kegiatan Coreship dan PKMMTJ. Saat acara berlangsung, semuanya berjalan dengan
lancar. Anehnya, disana aku mulai akrab dengan kak Argi.
Ehhh,, gimana cerpenku???? seru gak??
Penasaran sama kelanjutannya..
Simak terus ya di postingan selanjutnya,,
Byyeeee.. \(^o^)/



0 komentar:
Posting Komentar