CERPENKU (Part 2)

| Jumat, 15 Mei 2015
haiii,, haii.. 
ogenki desu ka??
balik lagi nih dengan cerita di postingan sebelumnya,, aku mau ngelanjutin cerpen yang udah aku buat ini..
walopun ceritanya GAJE pake BANGET., tapi yang jelas, masih bisa dibaca kok.. hahaha xD

Langsung aja ya,, yuuukk intip cerita selanjutnya...
\(^o^)/

     ------------------------------------------------------------------------------------------------
Dua minggu setelah kegiatan tersebut, kami berdua pergi makan bersama. Disana kami berbincang-bincang tentang banyak hal. “Sonya, ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” kata Argi pelan. “dari tadi kita udah bicara kan? Ada apa sih, sepertinya serius banget.” Sahutku dengan penasaran. Dia menjawab, “Enggak kok, aku mau tanya aja.” “Tanya aja kak.” jawabku. “Kamu punya kakak gak?” tanya Argi padaku. “Punya kak. Kenapa?” kataku yang semakin penasaran. “Cewek apa cowok?” sahutnya lagi. “Cewek. Emang kenapa sih?” tanyaku ulang. “Boleh gak, aku jadi kakak kamu?” katanya pelan. “Boleh, kenapa enggak.” Jawabku dengan tersenyum. “Wah, berarti kalo kamu punya cowok, aku yang seleksi ya.. hehe.” candanya padaku. “Berarti kakak juga ya, kalo punya cewek, aku yang seleksi.. haha.”  “Tapi aku lagi gak pengen pacaran dek.” katanya padaku. “Aku juga sama kok kak. Lagi gak pengen pacaran. Haha.” sahutku. Kamipun melanjutkan perbincangan dan aku pulang kembali ke asramaku. Saat aku memikirkannya kembali, ada kalanya aku merasa senang, namun aku juga merasa sedih. Entahlah, aku merasa ada sesuatu yang aneh padaku. Perasaan yang mungkin tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Apa aku suka padanya, sehingga aku merasa tidak ingin menjadikannya sebagai kakakku? Mengapa aku merasa senang? Apakah aku senang karena aku bisa dekat dengannya? Semua pertanyaan itu mulai berputar di dalam otakku. “Aargh..” gumamku dengan keras.
“Ada apa son?” tanya Lutfi dengan logat ngapaknya. “Aku gak kenapa-napa kok.” Jawabku dengan senyum padanya. Malam itu, aku memikirkannya sampai pada akhirnya akupun tertidur pulas.
            Setelah itu, aku dan kak Argi menjadi kakak beradik. Kamipun sibuk dengan urusan masing-masing, namun kadang kami bertemu secara tidak sengaja. Banyak sekali kejadian-kejadian yang tidak terduga tentang kami. Ketika pertama kali tanpa sengaja bertemu di gazebo kampus, aku sedikit terkejut, tapi aku merasa senang dan akupun membelikannya makanan ringan untuknya. Ketika aku keluar dari kelas, kamipun berpapasan karena dia akan memasuki kelas yang aku pakai sebelumnya. Kami sempat juga berpapasan ditangga ketika aku mau naik ke lantai atas dan dia turun ke lantai bawah, dia menghalangi jalanku dan kami berbincang sebentar ditangga tersebut. Saat hujan turun, aku menunggu hujan reda dikoridor gedung dan dia berlarian dengan rambutnya yang basah, melewatiku begitu saja dengan terburu-buru, karena aku tahu dia pasti terlambat kuliah. Pernah juga, ketika aku duduk bersama dengan teman-temanku, dia melihatku dan menyapaku, akupun menyapanya kembali. Tapi, ekspresinya berubah begitu saja tanpa aku mengerti apa alasannya. Apakah ada yang salah dengan penampilaku? ataukah hanya perasaanku saja? Entahlah, aku tidak begitu mengerti dan tidak mau mengganggapnya serius.
            Ada suatu kejadian dimana hal itu membuatku sangat penasaran. Ketika itu, acara festival keolahragaan khusus mahasiswa akuntansi diadakan. Aku dan teman-teman satu kelas, mendukung anggota kelas kami yang lain untuk mengikuti perlombaan. Saat aku duduk bersama teman-temanku, kak Argi dan kak Ayu –kakak tingkat yang juga fungsionaris di HMJ Akt- berbincang-bincang. Memang jarak kami cukup berjauhan, tetapi entah mengapa, aku merasa diperhatikan oleh mereka berdua. “Aahh,, mungkin cuma perasaanku saja.” gumamku pelan dan akupun melanjutkan menyemangati teman-temanku yang sedang berlomba.
            Tidak hanya itu saja, kejadian lainnya terjadi ketika diadakan rapat bersama. Ketika aku duduk bersama dengan Puspita Intani dan kamipun mendengarkan arahan dari wakil ketua hima, kak Arsa. Kak Argi dengan celetukannya bercanda gurau dan membuat kami semua tertawa. Anehnya, tiba-tiba dia meninggalkan tempat dan menuju ke samping ruangan. Dan kak Ayupun menghampirinya. Tidak lama mereka berbincang, lalu kembali lagi ke tempatnya semula. Aku sempat penasaran dengan hal itu, tapi aku tidak punya kuasa untuk menanyakan sesuatu yang tidak berhubungan denganku. Walaupun kami sudah menjadi kakak beradik, tapi kami tidak pernah saling untuk terbuka satu sama lainnya. Sempat sebelum dia pergi, dia melihat kearahku dan ekspresinya menjadi berbeda dari sebelumnya.
            Walaupun kami tidak terlalu terbuka satu sama lainnya, tetapi kami memiliki persamaan yang membuat kami tetap dekat, yaitu kami sama-sama menyukai musik yang berasal dari jepang. Terutama film-film kartun jepang atau biasa disebut dengan anime. Karena menurut kami, lagu-lagu dari jepang itu keren, memiliki makna yang menarik dan kadang juga mendiskripsikan diri kami. Apalagi anime jepang, memiliki perpaduan musik, seni dan sajian yang menarik dan kadang bisa membuat inspirasiku muncul setelah menontonnya. Sering kali dari situlah perbincangan selalu dimulai. Sempat juga, ketika tidak ada perbincangan, kami hanya saling diam. Kadang juga, aku merasa ketika dekat dengannya aku merasa canggung dan bingung harus berbuat apa. Dan pada akhirnya, kamipun langsung meninggalkan satu sama lain, tanpa ada alasan yang jelas.

            Bulan November pun tiba. Banyak kegiatan yang dilaksanakan saat itu, seperti kegiatan perlombaan band-band fakultas dan kegiatan ‘Public Speaking’. Disetiap kegiatan, pasti ada saja dimana muncul kenangan antara aku dan kak Argi. Saat kegiatan perlombaan band tersebut, aku dan Puspita bersama dengan teman-teman yang lainnya berada dibawah panggung. Disana juga ada kak Ayu dan kak Argi serta kakak-kakak yang lainnya. Kami bersorak sorai dibawah panggung untuk meramaikan suasana. Saat pertengahan acara, hujan turun dengan deras. Kamipun mencari tempat untuk meneduh dan kamipun saling berpencar. Malampun mulai larut, aku harus segera pulang. Ketika aku akan pulang, tiba-tiba kak Argi muncul didepanku. Entahlah darimana datangnya, tapi aku sangat terkejut saat itu. Dia berbicara padaku sebentar, lalu mengantarkanku kembali ke asrama dengan ditemani oleh guyuran hujan. Dua minggu setelah kegiatan tersebut, diadakanlah kegiatan ‘Public Speaking’. Aku dan yang lainnya mendengarkan teman-teman yang maju ke depan. Saat aku duduk disamping Pras -teman sekelasku-, dia mengajakku mengobrol dan bercanda denganku. Tepat diseberang kami berdua, kak Argi dan kak Rian duduk berdekatan. Kamipun asyik mengobrol, walaupun begitu, aku juga sering melihat sekitar dan peserta yang maju ‘Public Speaking’. Saat tatapanku tertuju kearah seberang tempatku duduk, aku melihat kak Argi melihatku dengan tatapan yang sangat menakutkan, seperti ingin menerkamku saja. Pikiranku mulai merasa gelisah, saat ditengah Pras cerita, aku langsung bilang padanya, “Hey, Puspita Intani maju lho, aku mau men-suport dia.” Dan akupun buru-buru untuk meninggalkan Pras. Sebenarnya bukan karena Puspita aku melakukan itu, hanya perasaan takutku terhadap tatapan kak Argi yang mengerikan itu. Aku berpindah tempat di paling depan para kontestan melakukan aksinya. Tak lama setelah aku pindah tempat dan men-suport Puspita, kak Argi juga berpindah tempat. Akupun merasa lega. Tapi perasaan legapun dengan segera menghilang, karena tanpa aku sadari ternyata dia duduk dibelakangku. Hal itu membuatku sedikit tertekan, entahlah karena apa. Mungkin karena tatapan yang mengerikan itu, atau sesuatu yang membuatku tidak nyaman berada disana.
Semua orang bisa mengatakan, mungkin ini cinta. Ada rasa cemburu atau sebagainya, tapi sejak dulu aku tidak percaya adanya cinta. Sekalipun aku tidak pernah merasakan apa itu yang namanya cinta. Ketika melihat orang yang jatuh cinta, aku merasa aneh dan aku juga tidak mengerti apa itu cinta sesungguhnya.
            Saat acara selesai, aku dan teman-temanku berjalan bersama-sama. Aku sempat bertanya kepada Gino dan Reza apa itu berbedaan antara ‘cinta, suka, sayang dan fans’. Reza menjawab, “Cinta itu perasaan suka kepada seseorang, Sayang adalah perasaan suka yang lebih dari pada cinta, Suka adalah perasaan kesenangan kita terhadap sesuatu, dan Fans adalah perasaan suka kita yang lebih besar, tetapi tidak lebih besar dari pada rasa cinta atau sayang.” “Jadi, jika diurutkan dari pertama yaitu suka-fans-cinta-sayang. Itu menurutku” kata Reza menambahkan. “Ooh, begitu ya.” jawabku dengan cukup puas. Kamipun melanjutkan perjalanan dan kembali pulang.
            Aku jarang sekali berbicara secara langsung kepada kak Argi, karena aku juga termasuk orang pendiam di antara teman-temanku. Tapi, entah kenapa, semakin lama aku mengenalnya, aku semakin pernasaran dengannya. Apakah ini juga termasuk cinta? Pikirku dengan keras. Aku tidak percaya cinta. Apalagi jika dipikirkan kembali, pertemuan pertama kami tidak seromantis di film-film cinta. Hal itu meyakinkanku, bahwa itu bukan cinta. 

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Apakah kalian juga setuju, kalo Sonia itu tidak jatuh cinta?? 
Apakah kalian benar-benar yakin, kalau Argi pun tak punya perasaan kepada Sonia??

Penasaran kan.... hayooo ngaku?? hahaha
Kisah selanjutnya disambung di postingan selanjutnya ya.. 
Bye... ^o^

0 komentar:

Posting Komentar

Next Prev
▲Top▲