ogenki desu ka??
balik lagi nih dengan cerita di postingan sebelumnya,, aku mau ngelanjutin cerpen yang udah aku buat ini..
walopun ceritanya GAJE pake BANGET., tapi yang jelas, masih bisa dibaca kok.. hahaha xD
Langsung aja ya,, yuuukk intip cerita selanjutnya...
\(^o^)/
------------------------------------------------------------------------------------------------
Dua minggu setelah kegiatan tersebut,
kami berdua pergi makan bersama. Disana kami berbincang-bincang tentang banyak
hal. “Sonya, ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” kata Argi pelan. “dari
tadi kita udah bicara kan? Ada apa sih, sepertinya serius banget.” Sahutku
dengan penasaran. Dia menjawab, “Enggak kok, aku mau tanya aja.” “Tanya aja
kak.” jawabku. “Kamu punya kakak gak?” tanya Argi padaku. “Punya kak. Kenapa?”
kataku yang semakin penasaran. “Cewek apa cowok?” sahutnya lagi. “Cewek. Emang
kenapa sih?” tanyaku ulang. “Boleh gak, aku jadi kakak kamu?” katanya pelan.
“Boleh, kenapa enggak.” Jawabku dengan tersenyum. “Wah, berarti kalo kamu punya
cowok, aku yang seleksi ya.. hehe.” candanya padaku. “Berarti kakak juga ya,
kalo punya cewek, aku yang seleksi.. haha.” “Tapi aku lagi gak pengen pacaran dek.”
katanya padaku. “Aku juga sama kok kak. Lagi gak pengen pacaran. Haha.”
sahutku. Kamipun melanjutkan perbincangan dan aku pulang kembali ke asramaku.
Saat aku memikirkannya kembali, ada kalanya aku merasa senang, namun aku juga
merasa sedih. Entahlah, aku merasa ada sesuatu yang aneh padaku. Perasaan yang
mungkin tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Apa aku suka padanya, sehingga aku
merasa tidak ingin menjadikannya sebagai kakakku? Mengapa aku merasa senang?
Apakah aku senang karena aku bisa dekat dengannya? Semua pertanyaan itu mulai
berputar di dalam otakku. “Aargh..” gumamku dengan keras.
“Ada
apa son?” tanya Lutfi dengan logat ngapaknya. “Aku gak kenapa-napa kok.”
Jawabku dengan senyum padanya. Malam itu, aku memikirkannya sampai pada
akhirnya akupun tertidur pulas.
Setelah itu, aku dan kak Argi
menjadi kakak beradik. Kamipun sibuk dengan urusan masing-masing, namun kadang
kami bertemu secara tidak sengaja. Banyak sekali kejadian-kejadian yang tidak
terduga tentang kami. Ketika pertama kali tanpa sengaja bertemu di gazebo
kampus, aku sedikit terkejut, tapi aku merasa senang dan akupun membelikannya
makanan ringan untuknya. Ketika aku keluar dari kelas, kamipun berpapasan
karena dia akan memasuki kelas yang aku pakai sebelumnya. Kami sempat juga
berpapasan ditangga ketika aku mau naik ke lantai atas dan dia turun ke lantai bawah,
dia menghalangi jalanku dan kami berbincang sebentar ditangga tersebut. Saat
hujan turun, aku menunggu hujan reda dikoridor gedung dan dia berlarian dengan
rambutnya yang basah, melewatiku begitu saja dengan terburu-buru, karena aku
tahu dia pasti terlambat kuliah. Pernah juga, ketika aku duduk bersama dengan
teman-temanku, dia melihatku dan menyapaku, akupun menyapanya kembali. Tapi,
ekspresinya berubah begitu saja tanpa aku mengerti apa alasannya. Apakah ada
yang salah dengan penampilaku? ataukah hanya perasaanku saja? Entahlah, aku
tidak begitu mengerti dan tidak mau mengganggapnya serius.
Ada suatu kejadian dimana hal itu
membuatku sangat penasaran. Ketika itu, acara festival keolahragaan khusus
mahasiswa akuntansi diadakan. Aku dan teman-teman satu kelas, mendukung anggota
kelas kami yang lain untuk mengikuti perlombaan. Saat aku duduk bersama
teman-temanku, kak Argi dan kak Ayu –kakak tingkat yang juga fungsionaris di
HMJ Akt- berbincang-bincang. Memang jarak kami cukup berjauhan, tetapi entah
mengapa, aku merasa diperhatikan oleh mereka berdua. “Aahh,, mungkin cuma
perasaanku saja.” gumamku pelan dan akupun melanjutkan menyemangati
teman-temanku yang sedang berlomba.
Tidak hanya itu saja, kejadian
lainnya terjadi ketika diadakan rapat bersama. Ketika aku duduk bersama dengan
Puspita Intani dan kamipun mendengarkan arahan dari wakil ketua hima, kak Arsa.
Kak Argi dengan celetukannya bercanda gurau dan membuat kami semua tertawa.
Anehnya, tiba-tiba dia meninggalkan tempat dan menuju ke samping ruangan. Dan
kak Ayupun menghampirinya. Tidak lama mereka berbincang, lalu kembali lagi ke
tempatnya semula. Aku sempat penasaran dengan hal itu, tapi aku tidak punya
kuasa untuk menanyakan sesuatu yang tidak berhubungan denganku. Walaupun kami
sudah menjadi kakak beradik, tapi kami tidak pernah saling untuk terbuka satu
sama lainnya. Sempat sebelum dia pergi, dia melihat kearahku dan ekspresinya
menjadi berbeda dari sebelumnya.
Walaupun kami tidak terlalu terbuka
satu sama lainnya, tetapi kami memiliki persamaan yang membuat kami tetap
dekat, yaitu kami sama-sama menyukai musik yang berasal dari jepang. Terutama
film-film kartun jepang atau biasa disebut dengan anime. Karena menurut kami,
lagu-lagu dari jepang itu keren, memiliki makna yang menarik dan kadang juga
mendiskripsikan diri kami. Apalagi anime jepang, memiliki perpaduan musik, seni
dan sajian yang menarik dan kadang bisa membuat inspirasiku muncul setelah
menontonnya. Sering kali dari situlah perbincangan selalu dimulai. Sempat juga,
ketika tidak ada perbincangan, kami hanya saling diam. Kadang juga, aku merasa
ketika dekat dengannya aku merasa canggung dan bingung harus berbuat apa. Dan
pada akhirnya, kamipun langsung meninggalkan satu sama lain, tanpa ada alasan
yang jelas.
Bulan November pun tiba. Banyak
kegiatan yang dilaksanakan saat itu, seperti kegiatan perlombaan band-band
fakultas dan kegiatan ‘Public Speaking’. Disetiap kegiatan, pasti ada saja
dimana muncul kenangan antara aku dan kak Argi. Saat kegiatan perlombaan band
tersebut, aku dan Puspita bersama dengan teman-teman yang lainnya berada
dibawah panggung. Disana juga ada kak Ayu dan kak Argi serta kakak-kakak yang
lainnya. Kami bersorak sorai dibawah panggung untuk meramaikan suasana. Saat
pertengahan acara, hujan turun dengan deras. Kamipun mencari tempat untuk
meneduh dan kamipun saling berpencar. Malampun mulai larut, aku harus segera
pulang. Ketika aku akan pulang, tiba-tiba kak Argi muncul didepanku. Entahlah
darimana datangnya, tapi aku sangat terkejut saat itu. Dia berbicara padaku
sebentar, lalu mengantarkanku kembali ke asrama dengan ditemani oleh guyuran
hujan. Dua minggu setelah kegiatan tersebut, diadakanlah kegiatan ‘Public
Speaking’. Aku dan yang lainnya mendengarkan teman-teman yang maju ke depan.
Saat aku duduk disamping Pras -teman sekelasku-, dia mengajakku mengobrol dan
bercanda denganku. Tepat diseberang kami berdua, kak Argi dan kak Rian duduk
berdekatan. Kamipun asyik mengobrol, walaupun begitu, aku juga sering melihat
sekitar dan peserta yang maju ‘Public Speaking’. Saat tatapanku tertuju kearah
seberang tempatku duduk, aku melihat kak Argi melihatku dengan tatapan yang
sangat menakutkan, seperti ingin menerkamku saja. Pikiranku mulai merasa
gelisah, saat ditengah Pras cerita, aku langsung bilang padanya, “Hey, Puspita
Intani maju lho, aku mau men-suport dia.” Dan akupun buru-buru untuk
meninggalkan Pras. Sebenarnya bukan karena Puspita aku melakukan itu, hanya
perasaan takutku terhadap tatapan kak Argi yang mengerikan itu. Aku berpindah
tempat di paling depan para kontestan melakukan aksinya. Tak lama setelah aku
pindah tempat dan men-suport Puspita, kak Argi juga berpindah tempat. Akupun
merasa lega. Tapi perasaan legapun dengan segera menghilang, karena tanpa aku
sadari ternyata dia duduk dibelakangku. Hal itu membuatku sedikit tertekan,
entahlah karena apa. Mungkin karena tatapan yang mengerikan itu, atau sesuatu
yang membuatku tidak nyaman berada disana.
Semua
orang bisa mengatakan, mungkin ini cinta. Ada rasa cemburu atau sebagainya,
tapi sejak dulu aku tidak percaya adanya cinta. Sekalipun aku tidak pernah
merasakan apa itu yang namanya cinta. Ketika melihat orang yang jatuh cinta,
aku merasa aneh dan aku juga tidak mengerti apa itu cinta sesungguhnya.
Saat acara selesai, aku dan
teman-temanku berjalan bersama-sama. Aku sempat bertanya kepada Gino dan Reza
apa itu berbedaan antara ‘cinta, suka, sayang dan fans’. Reza menjawab, “Cinta
itu perasaan suka kepada seseorang, Sayang adalah perasaan suka yang lebih dari
pada cinta, Suka adalah perasaan kesenangan kita terhadap sesuatu, dan Fans
adalah perasaan suka kita yang lebih besar, tetapi tidak lebih besar dari pada
rasa cinta atau sayang.” “Jadi, jika diurutkan dari pertama yaitu suka-fans-cinta-sayang.
Itu menurutku” kata Reza menambahkan. “Ooh, begitu ya.” jawabku dengan cukup
puas. Kamipun melanjutkan perjalanan dan kembali pulang.
Aku jarang sekali berbicara secara
langsung kepada kak Argi, karena aku juga termasuk orang pendiam di antara
teman-temanku. Tapi, entah kenapa, semakin lama aku mengenalnya, aku semakin
pernasaran dengannya. Apakah ini juga termasuk cinta? Pikirku dengan keras. Aku
tidak percaya cinta. Apalagi jika dipikirkan kembali, pertemuan pertama kami
tidak seromantis di film-film cinta. Hal itu meyakinkanku, bahwa itu bukan
cinta.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Apakah kalian juga setuju, kalo Sonia itu tidak jatuh cinta??
Apakah kalian benar-benar yakin, kalau Argi pun tak punya perasaan kepada Sonia??
Penasaran kan.... hayooo ngaku?? hahaha
Kisah selanjutnya disambung di postingan selanjutnya ya..
Bye... ^o^


0 komentar:
Posting Komentar