CERPENKU (Part 3)

| Sabtu, 16 Mei 2015
Ohayou... minna-san.. ^o^
Wah duh,, jangan bosen dulu.. ceritanya belum berakhir soalnya,, hehe..
tapi untuk episode kali ini,, aku bakal nyeritain sampe tuntas deh.. hehe..
jadi, jangan ngantuk dulu ya,, hehheehe..

karena udah pada penasaran sama ceritanya,, langsung aku ceritain aja ya gaaeeessss...
Yomi-kudasai !!

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
            Ketertarikanku padanya, membuatku sering memperhatikannya. Akupun sering dibuat kagum olehnya karena perkataannya di depan banyak orang dan hal itu membuatku sangat gembira bahkan bisa memotivasi hidupku. Tidak hanya disitu saja, aku mulai tertarik dengan kehidupannya, teman-temannya dan segalanya yang berhubungan dengannya. Perasaan ini, semakin hari semakin membuatku mulai gelisah. “Sonya, apa yang terjadi denganmu? Apa kamu mulai suka dengannya?” batinku dalam hati. Tapi, aku selalu mengelak adanya perasaan ini. Hal ini semakin membuatku merasa takut dan risau.
            Desember yang ceria pun tiba. Tibalah pula saatnya kegiatan terkhir magang HMJ Akt, yaitu ‘Evaluasi Akhir’. Kegiatan ini dilaksanakan di Jogjakarta sebagai tempat tujuan di pantai Parangtritis. Saat perjalanan menuju tempat tersebut, aku duduk sendirian di dalam bus. Tiba-tiba kak Argi duduk disampingku dan mengajak aku berbicara dan becanda. Suasana yang sangat canggung bagiku. Seperti ada sekat diantara kami berdua untuk berbicara secara bebas dan lepas. Kami hanya sebentar berbicara, setelah itu kami saling diam. Setiap kali dia berbicara padaku, aku sama sekali tidak memandanginya. Tapi disaat kami tidak duduk bersama, aku sering memperhatikannya. Sesampainya di pantai parangtritis, kamipun memulai kegiatan evalusi akhir HMJ Akt. Disaat kak Argi duduk ditempat yang mudah kulihat, dia selalu berpidah tempat di belakangku. Aku seperti tidak bisa berkutik, dan melakukan segala sesuatunya dengan bebas.  Namun, ada kalanya aku merasa nyaman ketika dia berada dibelakangku, karena aku tidak harus melihat wajahnya. Terkadang ketika melihatnya, ada perasaan yang tak ku mengerti. Apakah senang, sedih, atau gelisah, seperti bercampur menjadi satu.
            Dua minggu setelah itu, aku merencanakan surprise ulang tahun untuk temanku Pitaloka. Aku minta tolong kepada kak Argi untuk mengantarkanku ke toko kue tart. Di setiap perjalanan kamipun saling diam dan tak banyak bicara. Rintik hujanpun mulai menemani perjalanan kami. Ketika sampai di toko tersebut, kamipun memilih kue yang mau dibeli. Saat disana, kamipun banyak bercanda bersama. Saat kami selesai membeli kue tart, hujanpun mulai turun dengan deras, akhirnya kami menunggu hujan sampai reda. Disana, kak Argi berbicara banyak hal kepadaku dan aku hanya mendengarkan saja. Aku lebih suka mendengarkannya bercerita, dibandingkan aku yang bercerita padanya. Hujanpun mulai sedikit reda, walaupun rintik hujan masih menemani perjalanan kami, tapi aku merasa tidak terganggu oleh itu dan bahkan aku merasa senang. Ditengah perjalanan kami kembali ke kampus, hujan semakin deras. Kami berhenti sebentar, kak Argi memberikan jaketnya kepadaku dan memakaikannya padaku, sedangkan dia sendiri memakai mantel hujan. Kamipun melanjutkan perjalanan kembali ke kampus dengan bercerita di sepanjang jalan.
            Sebulan setelah kejadian itu, banyak yang aku pikirkan. “Mungkin aku benar-benar sudah jatuh cinta kepadanya. Mungkin inilah saatnya aku harus jujur pada diriku sendiri” batinku. Kabut yang sudah menutup hatiku mulai menghilang dan aku mulai mengerti sekarang. Akupun bisa melihat hal yang penting bagiku, sesuatu yang tidak ingin aku kehilangannya untuk pertama kalinya.
            Lebih cepat dari hari di kalender, bulan Februari menampakkan dirinya. Bulan yang melambangkan penuh dengan kasih sayang dan cinta. Di bulan itu juga, aku mulai mencoba meyakinkan perasaanku ini dan tak ingin menutupi rasa sayang ini.
            Di hari valentine atau hari penuh kasih sayang, kak Argi mengajakku untuk pergi. Dia tahu bahwa aku sangat suka melihat bintang, dia mengajakku ketempat dimana aku bisa melihat bintang dengan cukup jelas. Disana kami bercanda bersama dan melihat bintang bersama-sama. Tiba-tiba, dia mengagetkanku dari lamunanku. “Adek! Ada yang ingin aku katakan kepadamu” kata kak Argi. “Apa kak? Katakan saja.” jawabku sambil tersenyum. “Aku suka kamu.” katanya padaku. Aku terkejut dengan perkataannya itu. Mulutku seperti terkunci dan tak bisa berkata-kata. “Kita memang baru saling mengenal, tapi aku merasa kita sudah saling mengenal sangat lama. Walaupun aku adalah orang yang humoris, tetapi untuk masalah perasaan, aku selalu serius.” Katanya kembali. Sesaat rasanya jatungku seperti berhenti sedetik dan akupun mulai merasa sesak. Mataku mulai berkaca-kaca dan menahan perasaan ini. Hanya senyum yang dapat ku lontarkan kepadanya. Walalupun aku mempunyai perasaan yang sama, tapi serasa mulutku tak dapat berucap. Malam itupun berakhir begitu saja. Air mata mulai berlinang membasahi pipiku, ketika dia sudah pergi di depanku. Aku mulai menyesali diri yang tak dapat berucap sepatah katapun kepadanya.
            Dua tahun berlalu setelah itu. Kamipun jarang bertemu satu sama lain karena kesibukan masing-masing. Wisuda kelulusan kak Argi sudah mulai didepan mata. Akupun memberanikan diriku untuk menyatakan perasaanku. Ini adalah kesempatan terkhirku untuk melakukannya. Selesai kak Argi diwisuda, aku mengajaknya untuk bertemu. Kami duduk ditaman kampus. Akupun memulai pembicaraan dengan bercanda dengannya. “Wah, sekarang sudah lulus. Jangan-jangan langsung menikah ya kak? Haha.” candaku. “Ah, mana mungkinlah. Ah, kamu ini.. haha ” balasnya. “Mungkin saja, kakak seperti itu, we..” candaku balik. “Gak lah, haha” jawabnya. “Kak, aku mau bilang sesuatu ke kakak.” Kataku dengan gugup. “Apa dek?” sahutnya. “Dua tahun yang lalu, ketika kakak menyatakan perasaan kakak kepadaku, sebenarnya aku..” “Sebenarnya kenapa dek?” sela kak Argi. “Sebenarnya aku gak suka sama kakak” jawabku. “Iya dek, gak pa pa kok. Aku mengerti.” Jawabnya. Dalam hatiku mengatakan dengan kesal, “Kakak ini sok bijaksana banget sih. Huh, aku belum selesai bicara tahu, kakak.”
Akupun melanjutkan bicaraku kepadanya dengan segera, “Tapi, aku sayang sama kakak.” “Maksudnya?” jawabnya. “Karena aku..” belum sempat aku berbicara, kak Argi memotong pembicaraanku. “Kenapa dek?” katanya. “karena, aku benar-benar suka suka suka suka suka sama kakak.” Kataku dengan malu. “Benarkah?” jawabnya padaku. “Iya kak.” jawabku pelan. “Karena aku sangat menyukai kakak, satu kata suka tidak cukup mewaliki perasaanku kepada kakak.” jelasku padanya. Mata kami berdua sempat berkaca-kaca. Akupun melanjutkan dan menjelaskan semuanya kepada kak Argi dari awal sampai semua yang ingin kukatakan padanya. Baik tentang diriku, tentang kita dan tentang kenangan itu, aku mengutarakan semuanya. Kamipun berpelukan untuk perpisahan kami juga. Walaupun aku mengungkapkan perasaanku dan kak Argi juga melakukan hal yang sama, tapi kami tidak pernah berpacaran.
            Tiba saatnya kak Argi harus pergi meninggalkanku untuk melanjutkan studi ke Jepang, sedangkan aku disini melanjutkan studiku seperti biasa. Walaupun kita tidak berpacaran, tapi kami tidak pernah merasa menyesal terhadap apapun yang kami lakukan.
            Tibalah, saat kelulusanku. Hari terakhir aku menginjakkan kakiku di kampus. Akupun berjalan dengan payung hijauku dengan mendengarkan radio dari headsetku. Hujanpun mulai deras terasa, akupun bergegas masuk ke dalam bus. Kenangan yang masih tertinggal disana, membuatku selalu menginggatnya. Akupun turun di tempat dimana awal aku bertemu dengannya. Bayanganku memudar ketika seseorang memanggilku. “Sonya!” sahut orang yang tak asing mendengar suaranya. Dia menghampiriku dan memegang tanganku yang ada dipayung. “Jika aku datang untuk selalu bersamamu, katakan padaku perasaanmu saat itu.” kata kak Argi padaku. Kamipun saling bertukar pandang. “Hi, kak Argi Regfayana.” jawabku kesal tapi penuh senyuman. “Dek Sonya, perjalanan ini masih panjang. Aku hanya datang untuk melihat kamu disini sebentar.” kata kak Argi. “Aku tahu bahwa kamu akan datang kepadaku.” balasku. “Uh oh, kamu berlebihan lagi.” jawabnya. “Apakah kamu berfikir untuk selalu dekat denganku?” ucapnya kembali. “Kita mungkin memiliki banyak kenangan. Tapi, katakan padaku sejujurnya, apa yang hatimu rasakan sekarang. Lalu, buatlah kenangan baru itu bersama.” kata kak Argi padaku. Sesaat akupun terdiam dan tersenyum kepadanya. “I love you” ucapku dengan tersenyum padanya. “Hatiku saat ini, sama seperti saat awal kita bertemu. Ini seperti sebuah keajaiban.” jawabnya dengan tersenyum. Kamipun memulai langkah baru dan membuat kenangan baru bersama.


                                                         

J selesai J 

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Itulah tulisan cerpen yang udah aku buat,,
ya,, walopun gak bagus sih.. tapi aku bangga, aku bisa buat cerita gaje kayak gini.. hahhaha..
Terima kasih udah baca cerpenku dari awal sampai akhir..
aku ucapkan,, Arigatou Gozaimasu.. hountou ni arigatou gozaimasu.. 
Byeee.. sampai jumpa lain waktu ya.. \(^o^)/

0 komentar:

Posting Komentar

Next Prev
▲Top▲