Wah duh,, jangan bosen dulu.. ceritanya belum berakhir soalnya,, hehe..
tapi untuk episode kali ini,, aku bakal nyeritain sampe tuntas deh.. hehe..
jadi, jangan ngantuk dulu ya,, hehheehe..
karena udah pada penasaran sama ceritanya,, langsung aku ceritain aja ya gaaeeessss...
Yomi-kudasai !!
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ketertarikanku padanya, membuatku
sering memperhatikannya. Akupun sering dibuat kagum olehnya karena perkataannya
di depan banyak orang dan hal itu membuatku sangat gembira bahkan bisa memotivasi
hidupku. Tidak hanya disitu saja, aku mulai tertarik dengan kehidupannya,
teman-temannya dan segalanya yang berhubungan dengannya. Perasaan ini, semakin
hari semakin membuatku mulai gelisah. “Sonya, apa yang terjadi denganmu? Apa
kamu mulai suka dengannya?” batinku dalam hati. Tapi, aku selalu mengelak
adanya perasaan ini. Hal ini semakin membuatku merasa takut dan risau.
Desember yang ceria pun tiba.
Tibalah pula saatnya kegiatan terkhir magang HMJ Akt, yaitu ‘Evaluasi Akhir’.
Kegiatan ini dilaksanakan di Jogjakarta sebagai tempat tujuan di pantai
Parangtritis. Saat perjalanan menuju tempat tersebut, aku duduk sendirian di
dalam bus. Tiba-tiba kak Argi duduk disampingku dan mengajak aku berbicara dan
becanda. Suasana yang sangat canggung bagiku. Seperti ada sekat diantara kami
berdua untuk berbicara secara bebas dan lepas. Kami hanya sebentar berbicara,
setelah itu kami saling diam. Setiap kali dia berbicara padaku, aku sama sekali
tidak memandanginya. Tapi disaat kami tidak duduk bersama, aku sering
memperhatikannya. Sesampainya di pantai parangtritis, kamipun memulai kegiatan
evalusi akhir HMJ Akt. Disaat kak Argi duduk ditempat yang mudah kulihat, dia
selalu berpidah tempat di belakangku. Aku seperti tidak bisa berkutik, dan
melakukan segala sesuatunya dengan bebas. Namun, ada kalanya aku merasa nyaman ketika
dia berada dibelakangku, karena aku tidak harus melihat wajahnya. Terkadang
ketika melihatnya, ada perasaan yang tak ku mengerti. Apakah senang, sedih, atau
gelisah, seperti bercampur menjadi satu.
Dua minggu setelah itu, aku
merencanakan surprise ulang tahun untuk temanku Pitaloka. Aku minta tolong
kepada kak Argi untuk mengantarkanku ke toko kue tart. Di setiap perjalanan
kamipun saling diam dan tak banyak bicara. Rintik hujanpun mulai menemani
perjalanan kami. Ketika sampai di toko tersebut, kamipun memilih kue yang mau
dibeli. Saat disana, kamipun banyak bercanda bersama. Saat kami selesai membeli
kue tart, hujanpun mulai turun dengan deras, akhirnya kami menunggu hujan
sampai reda. Disana, kak Argi berbicara banyak hal kepadaku dan aku hanya
mendengarkan saja. Aku lebih suka mendengarkannya bercerita, dibandingkan aku yang
bercerita padanya. Hujanpun mulai sedikit reda, walaupun rintik hujan masih
menemani perjalanan kami, tapi aku merasa tidak terganggu oleh itu dan bahkan
aku merasa senang. Ditengah perjalanan kami kembali ke kampus, hujan semakin
deras. Kami berhenti sebentar, kak Argi memberikan jaketnya kepadaku dan
memakaikannya padaku, sedangkan dia sendiri memakai mantel hujan. Kamipun
melanjutkan perjalanan kembali ke kampus dengan bercerita di sepanjang jalan.
Sebulan setelah kejadian itu, banyak
yang aku pikirkan. “Mungkin aku benar-benar sudah jatuh cinta kepadanya.
Mungkin inilah saatnya aku harus jujur pada diriku sendiri” batinku. Kabut yang
sudah menutup hatiku mulai menghilang dan aku mulai mengerti sekarang. Akupun
bisa melihat hal yang penting bagiku, sesuatu yang tidak ingin aku
kehilangannya untuk pertama kalinya.
Lebih cepat dari hari di kalender,
bulan Februari menampakkan dirinya. Bulan yang melambangkan penuh dengan kasih
sayang dan cinta. Di bulan itu juga, aku mulai mencoba meyakinkan perasaanku
ini dan tak ingin menutupi rasa sayang ini.
Di hari valentine atau hari penuh
kasih sayang, kak Argi mengajakku untuk pergi. Dia tahu bahwa aku sangat suka
melihat bintang, dia mengajakku ketempat dimana aku bisa melihat bintang dengan
cukup jelas. Disana kami bercanda bersama dan melihat bintang bersama-sama. Tiba-tiba,
dia mengagetkanku dari lamunanku. “Adek! Ada yang ingin aku katakan kepadamu”
kata kak Argi. “Apa kak? Katakan saja.” jawabku sambil tersenyum. “Aku suka
kamu.” katanya padaku. Aku terkejut dengan perkataannya itu. Mulutku seperti
terkunci dan tak bisa berkata-kata. “Kita memang baru saling mengenal, tapi aku
merasa kita sudah saling mengenal sangat lama. Walaupun aku adalah orang yang
humoris, tetapi untuk masalah perasaan, aku selalu serius.” Katanya kembali.
Sesaat rasanya jatungku seperti berhenti sedetik dan akupun mulai merasa sesak.
Mataku mulai berkaca-kaca dan menahan perasaan ini. Hanya senyum yang dapat ku
lontarkan kepadanya. Walalupun aku mempunyai perasaan yang sama, tapi serasa
mulutku tak dapat berucap. Malam itupun berakhir begitu saja. Air mata mulai
berlinang membasahi pipiku, ketika dia sudah pergi di depanku. Aku mulai
menyesali diri yang tak dapat berucap sepatah katapun kepadanya.
Dua tahun berlalu setelah itu.
Kamipun jarang bertemu satu sama lain karena kesibukan masing-masing. Wisuda
kelulusan kak Argi sudah mulai didepan mata. Akupun memberanikan diriku untuk
menyatakan perasaanku. Ini adalah kesempatan terkhirku untuk melakukannya.
Selesai kak Argi diwisuda, aku mengajaknya untuk bertemu. Kami duduk ditaman
kampus. Akupun memulai pembicaraan dengan bercanda dengannya. “Wah, sekarang
sudah lulus. Jangan-jangan langsung menikah ya kak? Haha.” candaku. “Ah, mana
mungkinlah. Ah, kamu ini.. haha ” balasnya. “Mungkin saja, kakak seperti itu,
we..” candaku balik. “Gak lah, haha” jawabnya. “Kak, aku mau bilang sesuatu ke
kakak.” Kataku dengan gugup. “Apa dek?” sahutnya. “Dua tahun yang lalu, ketika
kakak menyatakan perasaan kakak kepadaku, sebenarnya aku..” “Sebenarnya kenapa
dek?” sela kak Argi. “Sebenarnya aku gak suka sama kakak” jawabku. “Iya dek,
gak pa pa kok. Aku mengerti.” Jawabnya. Dalam hatiku mengatakan dengan kesal,
“Kakak ini sok bijaksana banget sih. Huh, aku belum selesai bicara tahu,
kakak.”
Akupun
melanjutkan bicaraku kepadanya dengan segera, “Tapi, aku sayang sama kakak.”
“Maksudnya?” jawabnya. “Karena aku..” belum sempat aku berbicara, kak Argi
memotong pembicaraanku. “Kenapa dek?” katanya. “karena, aku benar-benar suka
suka suka suka suka sama kakak.” Kataku dengan malu. “Benarkah?” jawabnya
padaku. “Iya kak.” jawabku pelan. “Karena aku sangat menyukai kakak, satu kata
suka tidak cukup mewaliki perasaanku kepada kakak.” jelasku padanya. Mata kami
berdua sempat berkaca-kaca. Akupun melanjutkan dan menjelaskan semuanya kepada
kak Argi dari awal sampai semua yang ingin kukatakan padanya. Baik tentang
diriku, tentang kita dan tentang kenangan itu, aku mengutarakan semuanya.
Kamipun berpelukan untuk perpisahan kami juga. Walaupun aku mengungkapkan
perasaanku dan kak Argi juga melakukan hal yang sama, tapi kami tidak pernah berpacaran.
Tiba saatnya kak Argi harus pergi
meninggalkanku untuk melanjutkan studi ke Jepang, sedangkan aku disini
melanjutkan studiku seperti biasa. Walaupun kita tidak berpacaran, tapi kami
tidak pernah merasa menyesal terhadap apapun yang kami lakukan.
Tibalah, saat kelulusanku. Hari
terakhir aku menginjakkan kakiku di kampus. Akupun berjalan dengan payung
hijauku dengan mendengarkan radio dari headsetku.
Hujanpun mulai deras terasa, akupun bergegas masuk ke dalam bus. Kenangan yang
masih tertinggal disana, membuatku selalu menginggatnya. Akupun turun di tempat
dimana awal aku bertemu dengannya. Bayanganku memudar ketika seseorang
memanggilku. “Sonya!” sahut orang yang tak asing mendengar suaranya. Dia menghampiriku
dan memegang tanganku yang ada dipayung. “Jika aku datang untuk selalu
bersamamu, katakan padaku perasaanmu saat itu.” kata kak Argi padaku. Kamipun
saling bertukar pandang. “Hi, kak Argi Regfayana.” jawabku kesal tapi penuh
senyuman. “Dek Sonya, perjalanan ini masih panjang. Aku hanya datang untuk
melihat kamu disini sebentar.” kata kak Argi. “Aku tahu bahwa kamu akan datang
kepadaku.” balasku. “Uh oh, kamu berlebihan lagi.” jawabnya. “Apakah kamu
berfikir untuk selalu dekat denganku?” ucapnya kembali. “Kita mungkin memiliki
banyak kenangan. Tapi, katakan padaku sejujurnya, apa yang hatimu rasakan
sekarang. Lalu, buatlah kenangan baru itu bersama.” kata kak Argi padaku. Sesaat
akupun terdiam dan tersenyum kepadanya. “I love you” ucapku dengan tersenyum
padanya. “Hatiku saat ini, sama seperti saat awal kita bertemu. Ini seperti
sebuah keajaiban.” jawabnya dengan tersenyum. Kamipun memulai langkah baru dan
membuat kenangan baru bersama.

J
selesai J
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Itulah tulisan cerpen yang udah aku buat,,
ya,, walopun gak bagus sih.. tapi aku bangga, aku bisa buat cerita gaje kayak gini.. hahhaha..
Terima kasih udah baca cerpenku dari awal sampai akhir..
aku ucapkan,, Arigatou Gozaimasu.. hountou ni arigatou gozaimasu..
Byeee.. sampai jumpa lain waktu ya.. \(^o^)/



0 komentar:
Posting Komentar